Linimasa Paduan Suara Universitas Indonesia Dari Salemba Ke Pusgiwa Untuk Indonesia
Apa yang paling menonjol dan konsisten ketika kita menyaksikan paduan suara Universitas Indonesia (Paragita) di konser atau pun di panggung selain kualitas suaranya yang sudah mendunia?
Ya, buat yang sudah terbiasa menonton Paragita pasti hafal : kostumnya. Lihat saja di youtube ataupun google, Paragita selalu tampil menawan. Kostum yang paling berkesan buat gw adalah kostum FPS ITB (kalau gak salah tahun 2008) kostum itu didominasi warna ungu, ketika itu mereka berfoto dibawah gerbang ITB yang dihiasi bunga kembang Kolecer yang berwarna ungu juga. Bunga ini hanya mekar di bulan Juni - Agustus utk menyambut mahasiswa baru. Dengan cerdiknya Paragita memanfaatkan momentum itu. Karena FPS ITB di selanggarakan pada bulan Juli. Paragita memang telah terbiasa tampil cerdas dan cantik. Seperti mahasiswinya sehari-hari. Abis tiap hari liwat UI, jadi gw apal. (((ditabok bini pake batu ulekan padang)))
Demikian juga konser Linimasa minggu malam 18 Agustus 2019 yang lalu. Tidak ada kata yang tepat selain cantik dan megah. Tampilnya tarian dari sang mahaguru mbak
Aning Katamsi
dilagu pamungkas seperti mengukuhkan kecantikan konser tersebut. Linimasa sejatinya adalah sebuah proyek ambesyeus yang tercetus dari para alumni generasi 90an, untuk "bereuni" sambil bernyanyi dengan mengumpulkan seluruh 35 angkatan Paragita. Warbyasyak bukan? Tak terbayangkan betapa bangganya bapak Liliek dan Irzam di sisi Tuhan melihat konser ini.
Ambisiusnya gak tanggung tanggung, Paragita menyiapkan ratusan penyanyi tua dan muda. Merekapun memberikan kepercayaan besar kepada arranger internal mereka sendiri : Arief Dharma sebagai Music Director dan para punggawanya Asti Fajriani, Michael Sean,
Yohanes Raka
, Mikha Ogung Mikha Ogung Jonathan Panggabean
, Rauda Suryadiningrat dan Akhmad "Nanunk" Ramdhanu Sejujurnya gw belum pernah bekerja sama dengan Arief Dharma baik dalam proyek pembuatan lagu ataupun menyanyi bersama, palingan cuma sekali dua kali ketemu dlm proyek Twilite Orchestra dan cuma kenal karya karyanya. Singkat kata I know him by his reputation. Reputasi yang sama yang mengangkatnya menjadi kepala tim kreatif musik dlm Linimasa.
Mungkin dari semuanya gw paling akrab sama
Asti Fajriani
. Asti adalah arranger muda yg sangat gw idolai, karya2 asti begitu cantik, segar, dan cerdas ya seperti Astinya sendiri. Asti mampu mambuat harmoni2 mellow dan ceria tanpa terdengar "terlalu cewek" tetapi masih dalam koridor "kegantengan" tenor dan bass (ngomong apa sih gw?) Selain itu gw rasa Asti adalah sedikit dari arranger yang dapat memadukan harmoni kromatis kedalam aransemen paduan suara konservatif. Tanpa harus sok sok di jezz jezzin, namun terdengar sangat intelek. Sangat tidak sabar menunggu karya2 Asti berikutnya. Dan semua karya mereka berakhir di dapur
Marthin Tupanno
untuk dioseng2 kuah Gw kenalan dengan Ating dr jaman kuliah, sempet gak tau kabar, sampai sekarang jadi temen sekaligus fansnya (walaupun sampe sekarang gw paling males kerumahnya, takut dipatok uler) gw paling hobi minta tolong Ating untuk mengaransemen lagu2 paduan suara. Bahkan pernah minta dibuatin lagu yg sangat gak jelas untuk keperluan lagu wajib kompetisi. Hasilnya :Juara satu. Ya segitu asiknya karya ating. Semua harmoni dan pitch terasa pada tempatnya. menyanyikan lagu Ating rasanya seperti kita udah tau akan dapat birthday surprise, tapi ternyata surprisenya lebih heboh dr perkiraan kita. Selalu ada kejutan2 kecil yg menyenangkan dalam karya Ating. Bagi gw Ating adalah Mark Heyes nya Indonesia (diskon aransemen 50% haacchiiwww)
Tujuan utama gw ke konser linimasa adalah mengasah seluruh indra untuk fokus ke okestrasi para pemusik. Penasaran bakalan kayak apa sih? Dan ya Tuhan sulitnya berkonsentrsi ke orkesnya Ating.
Panggung yg luas dan kece membuyarkan konsentrasi. Ketika lagu lagu Sam Saimun dinyanyikan, hayati ini sudah lelah. Hanya mampu menangkap keseluruhan konser secara general. Kenapa? Karena semua begitu padu. Musik, vokal, koreografi, kostum dan panggung sangat menyatu padu. Mata dan kuping sangat dimanjakan.
Gw adalah salah satu orang yg pernah mencoba konser paduan suara alternatif, membawakan lagu2 pop kontemporer dan menyediakan 20an mic dengan pasukan band yang lengkap. Salah satu musisi di Linimasa yang ikut dikonser pop gw adalah bassist ganteng kita, Oom
Victor Prabowo
. Si bajingan tamvan ini beruntung bgt bisa masuk pasukan musisi malam itu, pasti victor sebagai saksi hidup menjamin kalau susahnya dan ribetnya persiapan konser gw, gak bakalan ada apa2nya dibanding persiapan Linimasa. Sebagai gambaran aja ketika gw mengadakan konser pop kontemporer dengan format semi vokal group membutuhkan dana yg tidak sedikit untuk membayar delapan musisi, 20 penyanyi, gedung pertunjukan dll dll. Betapa sulitnya menemukan studio latihan luas yang menyediakan lebih dari 30 channel mixer. Kalaupun ada mahal naudzu. Itu baru dari sisi biaya, belum koordinansi. Mengkoordinasikan lebih dr 30 musisi dan penyanyi serta tim produksi. Mau varises otak ini rasanya. BELUM LATIHAN, BELUM PENJUALAN TIKET, BELUM DUIT DARI MANE, BELUM BERANTEM SAMA ORTU ANGGOTA...menulis paragraf ini sangat menguras emosi gw. Ampir aja gigit leptop.Memang ada kejaiban tersendiri di tangan Midas para panitia dan pelatih2 Paragita. Selain sudah terbiasa tampil cantik, tapi jgn lupa, mereka sudah terbiasa susah. Pengalaman 35 tahun dalam berpaduan suara sanagt menempa proses persiapan ini. Salut untuk para tim pelatih Mbak Aning Katamsi, mas
Adji Kasyono
, mas Agus Yuwono
, Ramona Unsulangi
dan pelatih muda berbakat mereka Kristian Wirjadi termasuk Arif Dharma
Bayangkan gimana ngatur semua itu? Cuma satu kata : Respect. Gw rasa, hanya rasa hormat para anggota kepada pelatihnya yang memuluskan jalan yang terjal. Taulaaaaahh, persiapan konser dan kompetisi : Temen jadi musuh, musuh jadi temen. Tapi semua harmoni musik dan pertemanan kembali lagi ke tangan para konduktor. Hormat bagi para pelatih Paragita.Biasanya dalam konser paduan suara gw suka sok iye mencari2 hal teknis bernyanyi.baik.utk dikritik ataupun dipelajari. Gw (dengan sok taunya) biasa mengamati sebuah paduan suara yg membawakan karya2 komposer kontemporer dunia yg sedang upleaf (naek daon) senang sekali mendengarkan lagu2 aneh dan revolusioner. Dalam hati suka bilang : "buseh ni bocah2 jago bener yak?" dalam logat Depok yg kental tentunya. Mendengarkan konser2 tsb memerlukan tenaga ekstra. Pertama adalah tenaga kuping untuk mendengar, kedua tenaga otak untuk mengolah dan ketiga tenaga hati untuk menahan tangis. Kenapa ya PSM yg gw pimpin gak secanggih itu? Huhuhikshiks.
Namun Linimasa lain. Linimasa diset untuk KENYAMANAN SEMUA UMAT dan gw minkmati Linimasa tanpa tiga perasan tadi. Nyaman sekali (abis nyaman jadi sayang...eeaakk)
Repertiore malam itu bukan repertoire yang susah njelimet sekelas lagu wajib Spittal, namun sangat bersahaja dan berkelas. Bagi gw, rasanya seluruh kenangan hidup gw terangkum dalam satu konser : Ketika gw dengerin Sam saimun yang dinyanyiin nyokap gw di kamar mandi, Ketika gw mendengarkan Rinto Harahap sepanjang perjalan Bandung-Jakarta di tapedeck mobil bokap. Ketika uni gw dengerin Vina di hari minggu sambil nyapu rumah. Ketika gw baru belajar gitar dan belajar Kangennya Dewa, ataupun memori betapa ngantuknya mendengarkan Ermy Kullit di TVRI karena mau nonton The A Team. Dan ofcrots dong, ada dangdut is the music of my country!!
Dibuka oleh video Elvy Sekaesih yg sempat membuat gw histeris sesaat, karena emang ngefans sejak nonton Warkop DKI. Lalu temen nyanyi gw si
Ajeng Dwi Nur Apriliasih
tetiba joget dipanggu sambil berdendang Terajana apa Boneka dari India ya? Lupa. Pokoknya rasanya ingin kubawa pulang si Ajeng (((HAJIME! kata bini gw dr belakang, tiba2 udah kuncian segitiga dan semua gelap)))Bukan hanya Ajeng yg tampil memukaw (lebih dari memukau, cara mbacanya bibir bawah dilipet ke dalem pas kaw nya), di sesi satu juga ada teman2 Difertimento seperti si ganteng Yohanes Raka, Ibu peri Diferti incess
Sarma Dahita Silalahi
(nyang mana malem itu kece sangat) di sesi jazz, kak Rosa Sabina Johanna Aliandoe
yang sangat mempesona di segmen FLPI dan dr Joyce Sopacua
yang berkharisma di segmen Rinto Harahap. Bangganya gw dapat bernyanyi bersama mereka dalam satu paduan suara. Rasanya ingin ku berteriak norak ; temen guwe tuh..temen GUWE.![]() | ||||
Sarma di segmen "Jazz Indonesia" yang sampe manyun2 menghayati mic...eh lagu maksudnya.
|
![]() |
| Pak lurah-nya Paragita, Agus Yuwono yang kesohor dengan nama panggung Nyonyon, sedang memberikan pengarahan keselamatan gedung..eeh maap sedang tampil solo dengan suara baritonnya yang asoooy! |
![]() |
| Ms. Rosa Aliandoe yang tampil kece nan menawan |
Sesi dua pun tidak kalah anggunnya, dibuka dengan medley lagu2 daerah, angakatan muda pun unjuk gigi. Huft kayaknya Paragita emang gak pernah kekurangan stock penyanyi muda.
Dan tetiba setelah Segmen Anggun yg dibawakan dengan sempurna, maka tampilah temen gw si
Kartika Rosarma
dalam segmen berikutnya. Yeah gw tau.dr dulu emang si Tika ini cita2nya mulia sekali : jadi penyanyi seriosa. Namun.apa yg ditampilkan Tika malam itu bukan hanya canggih. Namun tika tampil bak profesional sejati. Kirain gw ni anak akan berseriosa ria..tp.dia malah nyanyi Karena Ku Sanggup-nya Agmon.Aih keren sekali tika malem itu. Ingin rasanya gw sebar video tika (kok sebar video? Rasanya kinky sekali) agar para vokalis band atau idol yg ogah masuk padus karena mereka pikir padus kurang cool dibanding solo. Lu liat nih temen guwek.Satu hal yg membuat gw menyesal. Selain orang2 diatas itu juga banyak penyanyi solo 90an yg unjuk gigi tapi gw gak kenal. Gw hanya mendengar cerita kehebatan mereka dari teman dan mentor gw mas Adji. Betapa semangat dan berdedikasinya angakatan 90an dalam mempersiapkan konser ini.Gw sendiri.jadi inget saban pulang latihan Difer, di mobil Mas Budi Susanto, dr. Joyce selalu berapi2 menceritakan perkembangan Linimasa. Pokoknya.hanya Linimasa dan Jokowi yg membuat kak Joyce berapi2 pas kita pulang hehehe.
Inilah kehebatan paragita 90an Paragita. Nggak ada kendornya. Api itu tidak padam. Dan seketika itu pun gw kangen berat sama senior2 gw di Perbanas. Dulu rasanya tiap hari kita makan sama2, nonton sama2 (termasuk nonton Arief Dharma request nyanyi sama Om Ireng Maulana di Friday Jazz Night Pasar Festival, kikikik), berantem ketawa sama2. Pokoknya susah dan seneng sama2. Mereka apa kabar ya? Kangen sekali.
Beruntunglah Paragita memiliki alumni yang luar biasa. Beruntunglah kalian anggota aktif Paragita yg masih bisa bernyanyi bersama alumni2 kalian. Sungguh suatu anugerah.
Sebagai alumni paduan suara Perbanas Jakarta, yang pernah beberapa kali berhadapan dengan Paragita di masa muda gw, gw sangat bangga pernah berkompetisi melawan mereka.
Angkat topi buat Paragita. Yg Paragita lakukan bukan hanya reuni dan konser bersama. Linimasa mengajarkan kita untuk mengingat kembali betapa sebuah PSM benar2 dibangun oleh dedikasi dan kerja keras tiap angkatannya. ketika PSM lain hanya bisa meneruskan cerita dan legenda perjuangan lama untuk api semangat angkatan baru, Paragita benar2 menyiramkan cerita dan legenda itu dalam bentuk cinta kepada almamaternya.
Akhirnya Paragita kembali ke akarnya :
Untuk almamater. Untuk Indonesia!






















Comments
Post a Comment