Happy Birthday Mas Doddy (Everybody is your teacher)
Banyak bgt penyanyi diluar sana yg merasa tidak perlu les vokal.
Ada tiga cerita dan kejadian yang selalu menyadarkan gw pentingnya belajar
vokal sampai kapanpun
Pertama, cerita ketika Once baru saja menggantikan Ari Lasso di Dewa 19. Padahal Once sebelumnya sudah menjadi penyanyi solo hebat dengan nama Elfonda dan telah menelurkan dua album. Once begitu tersinggung ketika Ahmad Dhani menyuruhnya utk belajar ke Doddy Katamsi. Singkat cerita; itu adalah satu keputusan yg selalu once syukuri
Kedua,ketika Agustinus Bambang Jusana untuk pertama kalinya mendarat di Perbanas Institute Choir,alangkah kagetnya gw mendengar curhat adek kelas gw kalau mereka dipaksa lagi untuk les vokal lagi diluar Perbanas (ketika itu gw sudah tidak aktif di PIC karena kerja diluar kota) PIC ini mahasiswa ekonomi yang menghabiskan weekendnya untuk les vokal. Padahal kan udah ada conductornya? ngapain lagi les vokal diluar. Dan hasilnya? Merkapun menjadi salah satu paduan suara terbaik. Dan bukan hanya di Indonesia. Dari situ juga gw baru tau kalau Choir Director itu ya tugasnya mendirect si choir, bukan ngajarin vokal, hahaha. Kadang di sini selain jadi pengajar vokal, jadi asisten make up juga, jadi psikolog juga, jadi supir juga, jadi satpam juga. Perlu dicatat, sebenernya si Kang Bems juga bisa dan mumpuni untuk mengajr vokal, alasan beliau menyuruh anggotanya untuk les vokal diluar jawabannya ada di akhir tulisan ini.
Dan terakhir, Pertemuan gw dengan seoranng Doddy Katamsi Ketika itu gw bercerita kepada beliau sebenarnya gw adalah penyanyi yg buruk dibanding dengan teman2 gw. Kadang gw minder bgt. Eh dia ngomong gini ; gue juga nil! Sontak gw kaget. Lalu belai melanjutkan kata2 yg gak pernah gw lupa; "Maybe I'm not best singer. But Im a damn great teacher" dan emang iya. Kata2 itu selalu membuat gw menaruh hormat kepada tiap guru vokal. Karena hampir setiap berguru atau bertukar pikiran, selalu ada saja perspektif vokal baru yg gw dapat. Gw kira gw udah dapat semua. Beluuum. masih anyak ilmu diluar sana yg masih bisa diserap. Dan ketika gw merasa kesulitan untuk bernyanyi cerita diatas selalu menggerakkan gw untuk mencari pengetahuan dan guru baru
Kenapa? Perspektif! Suara adalah ungkapan
emosi dan ekspresi jiwa. Tidak sperti alat musik yg ortodok, vokal itu menembus
ruang biologi, fisika, fantasi bahkan birahi. Begitu banyak perspektif dalam
belajar dan menjarkan vokal. Setiap guru vokal punya metode sendiri, punya cara
penyampaian tersendiri, bakan tiap not dan tarikan nafas punya kisah
tersendiri. Karena itu belajar vokal terasa jauh lebih menyenangkan daripada
belajar instrumen.
Masa? Serius! Ketika gw mendapat job di kantor misalnya. Untuk
mengajar satu padus kantoran. SELALU ya SELALU mereka memandang gw dengan
sebelah mata, mungkin dipikrannya nyanyi gak penting, siapa sih nih kok pengajar
vokal gak ada keren2nya? Tapi, setelah eventnya lewat, gak sadar kita udah jadi
sahabat. Bahkan sampai sekarang. Undangan nikah, sampai berita kelahiran selalu
sampai ke WA gw
Buat kalian para penyanyi yg merasa tidak butuh les vokal atau
bergabung dengan paduan suara. Percayalah, kalian kehilangan banyak perspektif,
kalian kehilangan emosi dan jiwa dari setiap individu yg seharusnya kalian buai
dan yang paling penting kalian kehilangan momen paling berkesan dalam karir
kalian.
Bergurulah...
-Happy Birthday Ayah Dokat-


Comments
Post a Comment