Merjan Nusantara - My first concert with Difertimento Vocal Ensamble
Betah bersama difertimento vocal ensemble dan jatuh cinta dengan konser Merjan Nusantara adalah dua frase dengan subjek kalimat yg bisa dibolak balik; Betah mendengarkan konser Merjan Nusantara dan jatuh cinta dengan Difertimento.
Begitu betah bersama kalian, Difertimento. Latihan banyak ketawanya, tapi kok selesai dan beres? Begitu banyak talenta, tapi kok ... (how do I put this?)...semua terasa normal? Loh emang salah kalo normal? Itulah yg gw gak sangka, karena sebelumnya yang gw tau banyak keadaan yg menurut gw gak normal dalam suatu komunitas padus, mulai dari sifat individu, sistem latihan, sampai anggota yg males latihan.
Gw selalu percaya satu hal ; kuat atau lemahnya paduan suara
terletak pada anggotanya yg paling lemah. No, jangan salah sangka, bukan soal
suara, tapi kedisiplinan. satu orang aja yg belagu jarang latihan, meding
singkirin tu orang, daripada jadi benalu. Karena padus adalah ensembel. Dan
emang itu yg gw baca; difertimento vocal ensemble
Datang ke latihan pertama gw udah siap dengan mental perang dan janji sama diri sendiri, seaneh2nya mereka, gw akan tetep rajin ikut latihan! SIAP GRAK! tujuan utama (dan ekhois) gw adalah mencuri ilmu dari seorang Budi Susanto Yohanes dan mas Adji Kasyono hehehe...
And you know what? ya itu tadi mereka gak aneh...normal. Becandanya normal, sistem latihan normal, cara latihan normal, ngobrol normal. Ini mah Perbanas, dalam hati gw sambil mengenang temen2 seperjuangan dulu di Perbanas Institute Choir. They (Difertimento) made this way too easy for me. But most of all, they made me feels like at home after long wandering years. And I'm thank you for that, Difertimentis. Way too fun being with you, waaay too fun. And “fun” it's my ultimate goal in my choir's life.
Kembali ke paragraf satu; Begitu mudah mudah jatuh cinta dengan
kalian
Jatuh cinta dengan Merjan Nusantara; gimana nggak? Dari mana gw
mulai? Komposisinya? Iringannya? Oh gw tau, ayo kita mulai dari yang paling
utama; ORIGINALITAS-nya
Malam itu, ketika konser Merjan, gw yakin banyak sekali
conductor dan chorister yg iri dengan kami (in a good way pastinya) bukan
karena kami mungkin dinilai bersuara bagus, atau nama besarnya. Tapi ada hal
lain. Kalau kita pernah menjadi seorang conductor, kita akan dihadapkan pada
satu dilema abadi; Idealis atau pasar? Idealis ketika kita mengutamakan lagu2
yg memang bisa menjadi ladang pembelajaran bagi choir kita, maka tersebutlah
Sacra, Traditional-Spiritual, Secular, Kontemporer dll dll, kasian
penontonnya...ngantuk. Atau yaudah lagu2 pop biar penonton enjoy, tapi selama
persiapan berbulan2 conductor tidak bisa memberikan ilmu yg mumpuni bagi
anggotanya, maka dipilihlah jalan singkat bin instant; konser dengan berbagai
genre! Sesi satu serius dan sesi dua enjoy. Ya sah sah aja. Gw juga gitu kok
| Pencitraan |
Tapi Merjan secara ajaib memberikan nuansa yg lain lain. Repertoire ini memberikan semua elemen yang kami perlukan. Singkatnya kami menyanyikan kumpulan tujuh puisi "Merjan Nusantara" oleh bapak Tengsoe Tjahjono secara nyaman. Ingat jaman2nya kita waktu PSM? banyak sekali lagu2 yg berbahasa sulit, akhirnya kita hapal karena iramanya? Lain dengan Merjan, liriknya sangat sederhana, tidak berbelit2 seperti puisi lainnya. Namun sangat bersahaja.
"Sungai besar itu mengalir jauh. Melintasi kota demi kota,
Rimba demi rimba. Tak terhitung kelok riam tersebar. Lenggang tenang perahu dan
kapal membelah Mahakam"
- Alir Mahakam-
"Kami berdiri di punggung Bukit Barisan, anak bangsa yang
tak rela kehilangan permata indah anugerah Tuhan Sang Cinta. Nusantara negeri
elok permai"
- Berdiri di Punggung Bukit Barisan-
"Merjan berkilau sewarna bendera, memerahkan daya juang
sejati, memutihkan niat suci abadi. Nusantara melebur dalam darah"
- Merjan Nusantara -
First of all, hormat sebesar2nya saya berikan bagi Pak Tengsoe.
Im not a big fans of poetry. Bagi gw puisi membosankan, apalagi puisi yg penuh
dengan idiom dan pengandaian. Puisi cinta murahan atau kesusahan hidup..bleh.
Tapi Merjan Nusantara adalah kualitas tertinggi puisi yang
sebener-benarnya. Jujur, sederhana, bersahaja dan Indah. tentang seorang anak
bangsa yg cinta mati terhadap negerinya. Ya cinta pribadi sang pujangga begitu
terasa menyentuh lewat ujung pulpennya.
Now you tell me; komposer mana yg tidak bahagia mendapat lirik seperti itu? Terserah mau dibilang lebay, lirik Merjan jauh lebih indah dan jauuuh lebih intim dari pada puisi2 Spanyol yg dimusikalisasikan oleh Z. Randall Stroope, romantisnya lirik Daniel Elder ataupun anehnya lirik seorang Eric Whitacre sekalipun. dan tentu saja para komposer beruntung (baca ; jenius) itu adalah Budi Susanto Yohanes,Andriano Alvin dan Amillio Fahlevi
Mari bicara sebentar tentang "berkesinambungan" bagi gw lagu yang begitu sempurna berkesinambungan antara lirik dan irama salah satunya adalah Jogjakarta-nya Kla Project. Inget intro Jogjakarta? Hanya dimulai dengan bunyi maracas tapi langsung mengingatkan kita akan langkah kuda andong. Lalu mulai masuk intro chord 4,5,1 yang tenang sesuai dengan keadaan Jogja dan tentu liriknya yg begitu meracuni dengan tenang dan pelan "Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu" bergema. Seperti itulah Merjan Nusantara.
Sebegitu detail dan telitinya Budi Susanto dengan irama cantik
dayak kenyahnya dalam "Alir Mahakam" Begitu megahnya Alvin menggaruk
piano dalam menggarap "Borobudur" dan begitu gagahnya Amil dengan
16th note semi march-nya dalam "Berdiri di Pungggung Bukit Barisan"
Sempurna.
Seperti pak Tengsoe bilang di belakang panggung sebelum konser kepada gw dan mas Adji, reseach dan penelitian yg luar biasa telah dilakukan mendalam oleh para komposer, sehingga puisi saya menjadi lebih terdengar agung dan megah.
Now you tell me; conductor dan chorister mana yang tidak
cemburu? Don't get me wrong, gw berharap Merjan Nusantara ini dapat dinyanyikan
oleh seluruh padus di seluruh dunia.
Karena, kembali ke paragraf pertama, begitu mudah betah
menyanyikan dan mendengarkan Merjan Nusantara.
Semoga Merjan Nusantara akan selalu bergaung sampai kapanpun,
echoes to eternity. Karena gw pribadi menganggap dan berharap komposisi tujuh
warna ini bisa menjadi komposisi klasik Indonesia dikemudian hari
Terima kasih Pak Tengsoe, Terima kasih mas Budi, Terima kasih Alvin, serta mas Adjie dan Amil yang merekomendasikan gw kepada paduan suara hebat ini. What a GREAT concert!
Dan terima kasih yg tulus buat seluruh difertimentis. You're
FUN! Dan tulisan ini buat kalian.
Lav yah!!


Comments
Post a Comment