Difertimento’s Sanctis Luminis – When Belief is in Your Heart, but Music is in Your Soul
Musik itu gila!
Banyak orang tua yang melarang anaknya mendengarkan Elvis,
Prince ataupun Madona dengan alasan mereka bukan musisi, tapi mereka adalah
agen setan yang merayu umat manusia kedalam fantasi dan keindahan sex.
Musik itu sadis!
Ketika Nirvana mengeluarkan album “In Utero” pemerintah Amerika
serikat menuduh lirik Kurt Cobain adalah alasan utama mengapa banyak pemuda
Amerika bunuh diri.
Musik itu sinting!
Betapa murkanya kelurga Cendana ketika Iwan Fals menyanyikan
“Bento”. Lihatlah betapa banyaknya hippies ber-orgy-ria di Woodstock 1969,
terbius oleh suara gitar Santana di “Black Magic Woman”
Musik itu godaan!
Bagaimana tidak, sebagian dari kita berharap “Imagine” adalah
solusi dari semua pertikaian agama dan perang di dunia. Bukan alkitab ataupun
undang2 negara. Bahkan pernah Al green pun dituduh sebagai orang yang paling
“bertanggung jawab” atas meledaknya kelahiran “baby boomer” di Amerika, karena
lagunya yang kelewat romantis.
Musik itu dahsyat.
Sehingga Amerika dengan tidak malu2 meminjam “We are the
Champion” Queen untuk dijadikan penyemangat atlit olimpiade mereka, Atau
bayangkan hati kita berdebar2 dan penuh semangat melihat Rocky Balboa berlatih
diiringi dengan “Eye of the Tiger” nya The Survivor. Bahkan lagu tersebut masih
kita nyanyikan ketika kita di gym 20 tahun kemudian.
Bayangkan, air yang kita minum dicampur gula sedikit demi
sedikit tiap harinya, sehingga kita berasumsi bahkan yakin bahwa rasa manis itu
adalah rasa tawar. Bayangkan apabila musik yang kita dengar tiap harinya
diinfus dogma2 agama. Sedikit demi sedikit, lalu hati kita meyakini bahwa dogma
itu adalah yg paling benar. Bayangkan kalau itu dangdut, musik yg kita dengar
sehari2, memaksa kita bahwa hanya ada satu agama yang benar. Dan itu telah lama
terjadi. Yang bertanggung jawab atas semua ini tidak lain adalah H Rhoma Irama.
Sedaaaaap! Bang haji dan Sonetanya selalu setia menasehati kita agar tidak
menyentuh mirasantika dan tidak judi serta begadang kalau tiada gunanya. Bang
Haji, you rawk!
Rupanya bang Haji menginspirasi Budi Susanto Yohanes malam itu…eh nggak deng, maksudnya, tema ini lah yang diambil oleh Budi untuk konser difertimento vocal ensemble malam itu. Mengapa tidak? Wali songo dan Kerajaan Belanda pun melakukan hal yang sama di negeri kita. Musik itu racun! Dapat membuat suatu bangsa bergerak menuju arah sesuai dengan keyakinannya.
![]() |
| Budi Susanto Yohanes |
Tidak ada penyebaran agama terbaik selain lewat musik. Kutipan
ayat terhebat, penceramah paling lantang ataupun kisah Nabi paling heroik akan
hambar apabila tidak dibungkus oleh musik. Lebih percaya mana : Film Nabi Musa
membelah lautan tanpa musik, atau Nabi Musa membelah laut dengan iringan Hans
Zimmer. Semua terasa lebih lebay dan superior.
Sebelum masuk ke pembahasn repertoire-nya, maap ya gw sebagai penulis cuma bisa menyelipkan sampele2 lagu dari repertoire konser malam ini via youtube saja, bukan yang dinyanikan oleh Difertimentonya (kecuali beberapa lagu) harap makloem.
Dari awal konserpun sudah terbaca tema “Inculturation Sacred
Music” ini. Dibuka dengan irama Nordik yang kental “Norwegian Alleluia” (Kim
Andre Arnessen). Mendengarkan Norwegian Alleluia, rasanya kita menjadi mafhum,
kenapa bangsa Skandinavia yang gagah berani dengan nenek moyang Viking yang
amat perkasa akhirnya secara pasrah dan bahagia memeluk Kristen. Disini gw sempat
berdiskusi seru dengan Mas Adji Kasyono bagaimana perjalanan Kristern Lutheran
dari Jerman menuju negara2 Skandinavia. Percayalah, sedikit banyak pasti karena
musik.
Disusul dengan “Orasho II” (Hideki Chihara) movement ke dua dari
tiga movement yang ada. Mengingatkan gw akan film “Silence” arahan Martin
Scorsese. Bercerita tentang dua pastor Jesuit yang mencari rekannya yang hilang
di Nagasaki Jepang pada zaman Edo (abad 17). Dalam misi itu mereka mengetahui,
bahwa menyebarkan agama selain Shinto di Nagasaki sama saja bunuh diri, namun
bagaimanapun masih ada sedikit warga Nagasaki yang memeluk Katolik dan
mengasingkan diri ke hutan untuk beribadah. Tidak seperti ibadah di gereja
sekarang yang gegap gempita, mereka melakukannya dalam kesunyian, dalam gelap,
dalam semua Bahasa yang disamarkan, karena mereka beribadah dalam ketakutan.
Begitulah Orasho, text pujian yang ditulis dalam Bahasa Jepang dan Latin.
Begitupula dengan melodinya, irama tradisional Jepang diselipkan dengan irama
klasik Latin. Orasho II mengajak kita ke lingkungan indah namun tertekan.
Kedamaian yang semu, sekaligus kengerian yang indah.. Takut namun rindu
Setela Orasho, program berikutnya adalah “Kyrie” yang dikompos oleh komposer Filpina, Ryan Cayabyab.
Filipina sedikit banyak seperti Indonesia, terdiri dari beberapa pulau dan beberapa suku serta Bahasa. Pada umumnya suku Filipina terbagi dari 4 suku besar ; Suku Mestizo (Campuran Melayu Spanyol), Suku Negrito (campuran kulit hitam), Suku Moro (Islam) dan Suke Aeta (penduduk natif filipina). Ini sok tau sok taunya gw aja loh ya, jadi kalau ada yg mau koreksi dipersilahkan bgt : gw rasa Ryan Cayabyab mengambil salah satu pattern nada dari Suku natif Filipina yaitu Suku Aeta. Kenapa gw sok tau bgt? Karena intronya, yang dibawakan oleh duet mezzosoprano dan alto, memiliki melodi yang begitu liar dan kasar. Namun disaat bersamaan juga indah dan merdu, it was hauntingly beautiful. Dan siapa lagi yang bisa membawakan duet itu dengan segala keeksotisannya selain Rosa Sabina Johanna Aliandoe dan Joyce Sopacua. Setelah duet satu menit yang sangat membius itu berakhir, kemudian meyusul irama dan text latin tradisional. Lagi2 bukti bahwa penyebaran Agama yang paling efektif adalah dengan pendekatan seni dan budaya2 bangsa itu sendiri.
![]() |
| Rosa Aliandoe |
![]() |
| Joyce Sopacua |
Kata orang, Bahasa Perancis adalah paling Bahasa paling romantis
di dunia. Salah besar, yang pantas meyandang gelar itu adalah Bahasa Spanyol.
Seperti halnya komposisi selanjutnya; “Aquesta Me Guiaba Oh Noche, Que Guiaste”
Ryan Cayabyab tidak menuliskan komposisi ini dengan bahasa ibunya, namun dalam
bahasa Spanyol. Sedikit mengingatkan gw akan Randall Z Stroope yang
berkebangsaan Amerika namun sering sekali membuat komposisi dalam Bahasa
Spanyol. Stroope begitu perkasa dalam sacra2 Inggris ataupun Latinnya, yang
paling memukau tentu saja “The Lementation of Jeremiah” yang begitu megah penuh
dengan kegelapan agung. Namun ketika harus menciptakan sesuatu yang lembut dan
romantis, Stroope beralih ke Bahasa Spanyol dan “Amor De Mi Alma” pun tercipta.
Amor de mi alma dalam Inggris kurang lebih adalah “You are the Love of my Soul”
Stroope sadar benar dia tidak bisa menciptakan lagu romantis dalam Bahasa
Inggris seindah dalam Bahasa Spanyol, lalu dia lampiaskan nada-nada di dadanya
lewat puisi Ciptaan Garcilaso de la Vega. Demikian juga dengan Cyabayab.
Sedemikian emosionalnya Cyabayab dalam menulis Aquesta, selain dalam Spanyol,
juga dalam wilayah nada yang sangat luas. Benar2 karya yang luar biasa
melelahkan secara emosional maupun teknik.
Sesi satu ini ditutup dengan “Cantico de Celebracion” oleh Leo Brouwer yang sejatinya adalah gitaris klasik dari Kuba.
Kuba adalah Negara komunis sejak dipimpin oleh Fidel Castro. Seorang musisi jazz Kuba, Arturo Sandoval, adalah legenda hidup yang menceritakan bagaimana sulitnya berekspresi musik di Kuba, Sandoval begitu mengidolakan Dizzy Gillespie, seorang peniup terompet Jazz dari Amerika, menurut Arturo, Jazz di Amerika adalah Jazz sebebas2nya ekspresi hati, tanpa harus didasari oleh irama2 tradisional seperti di Kuba.
Masalahnya begini, sebelum komunis masuk di Kuba, para imigran Afrika
masuk terlebih dahulu dan telah meninggakan cetak biru terhadap musik Kuba yang
disebut dengan “Afro-Cuba” musik latin Kuba berbeda dengan musik latin Meksiko
ataupun Puerto Rico, Afro-Cuba punya tatanan dan peraturan tersendiri.
Tatanan feel ritmik inilah yg dipakai oleh Leo Brouwer dalam menyusun Cantico. Kenapa gw bilang”Feel”? Karena ritmik ini hanya bisa dirasakan tapi tidak bisa ditulis dalam partitur, seperti halnya swing, ragtime atau shuffle. Ini masalah feel, bukan birama atau ketukan. Secara garis besar piano Afro-Cuba terdiri dari ritmik Montuno dan Clave yang bersingkup2 kebanyakan memakai tuplet, dan seperti kita tahu tuplet seperti “mengajak” kita untuk menentukan ketukan dari upbeat bukan down beat.
Ketukan upbeat yang paling dirkenal pastinya adalah Reggae, Tepi Montuno dipenuhi oleh tuplet2 menggantung, benar2 “mengandaalkan” rasa dan musikalitas. Belum lagi Brouwer memaksa para penyanyi untuk mengaplikasikan Montuno dan Clave itu sebagai perkusi, bukan lirik. " Chiquitipachiquitipa"", badum dum deaaa". Menyebalkan sekaligus menggemaskan. Sebagai sedikit contoh, dengarlah hand clap dalam Flamenco, terdengar salah, namun terasa benar.
Sesi dua saatnya diisi oleh composer dalam negeri kebanggan difertimento. Dimulai dengan Mass in E Minor Andriano Alvin
![]() |
| Adriano Alvin |
yang dibuka dengan Kyrie yang sangat merdu dan intim dan disusul
dengan harmoni pujian indah di menit2 berikutnya dan diakhiri oleh Amen yang
sangat cantik. Mendengarkan Mass Alvin seperti tenggelam dalam Cinta Kasih.
Memang harusnya mass seperti ini, tidak ngejelimet , harus syahdu, fokus dan
berwibawa. Semoga kita menyanyikannya sesuai ekspetasi ya Vin. Briliant!
“Surge Illuminare” Adalah komposisi orisinil Budi Susanto. Jujur
saja, Budi Susanto dan Ivan Yohan adalah dua composer favorit dalam negeri gue
dalam genre Sacra. Namun Surge lebih dari hanya sekedar sakra, ini adalah karya
kontemporer berbahasa latin yang sangat rumit dan sangat sulit menentukan
phrasing interpretasinya. Buat yang pernah menyanyikan atau mendengar Laudate
Dominum karya Giedrius Svilanis, Surge berada satu level diatasnya.
Intrepretasi Budi Susanto dalam menjelaskan kata “Illumina” sangat beragam; close
harmony, glissando sampai canon. Mengingatkan kita bahwa cahaya datang dalam
berbagai bentuk dan ragam.
Begitu juga dalam “Saya Mau Ikut Yesus” yang sukses membuat
banyak pasang mata penonton berkaca2. Harus diakui, walaupun lagu ini adalah
lagu yang sudah dikenall, namun keunggulan lagu ini ada dalam liriknya yang
begitu sederhana namun sempurna. Dan kesempurnaan lirik tadi ditingkatkan lagi
rasanya lewat taste harmoni yang indah. Ketika ada orang bertanya apa bedanya
sih kord mayor dan minor? sederhananya kita akan menyimpulkan bahwa kord mayor
rasanya senang dan kord minor rasanya sedih. Harmoni dalam Saya Ingin Ikut
Yesus benar2 mengikuti liriknya, bahagia,mesra, intim, sedih, haru, kasih
sayang, pasrah bahkan suara unison pun bisa menjadi sangat emosional sebagai
penguat keteguhan hati. Dan tak lupa penambahan kord yang sangat “gerejawi”
yang membuat jiwa anak kecil kita terasa seperti kembali ke sekolah minggu.
Sekarang giliran composer muda kaporit (lebih dari paporit) kita cmuah;Amillio Fahlevi. Amil memulai karyanya dalam konser ini dengan dua nomor latin sacra, "Angele Dei" dan "Gloria In Excelsis Deo". Gw yang tak pernah mendengar, bahkan gak pernah tahu bahwa Amil bisa mengkompos sacra jelas sangat kaget. Tidak ada kata yang lebih tepat selain”cantik” untuk komposisi Angele Dei, begitu tepatnya interpretasi harmoni Amil dalam memadukan harmoni2 dalam Angele Dei.
Dan yang tak kalah dahsyat adalah Gloria In Excelsis Deo. Begini, yang gw suka dari karya Amil adalah komitmennya dalam mengaransemen lagu, artinya Amil sama sekali tidak pernah “mengkhianati” atau merubah total bentuk lagu aslinya (beberapa aranjer terkadang nyaris merubah keseluran tatanan lagu aslinya) sehingga karya2 Amil masih bisa dinikmati dengan nyaman dan jujur tanpa mengerenyutkan dahi.
Tapi dalam Gloria, Amil benar2 keluar dari zona
nyamannya. Pernah dengar peristiwa “Crossroad”? dimana Robert Johnson seorang
gitaris blues Mississipi menjual jiwanya kepada Iblis di perempatan jalan demi
mendapatkan kemampuan gitar yang hebat? Nggaaak laaaah Amil gak seperti itu.
TAPI kalau dia sampai ngaku2 begitu, gw percaya ajalah. Komposisi amil ini
benar2 fresh dan out of the box. Walaupun ciri2 kesederhanaan dan detail-nya
Amil tetap ada disitu.
Tapi itu belum apa-apa…sampai Asmaul Husna dikumandangkan
Untuk pertama kalinya gw menyanyikan Asmaul Husna.
Apa yang gw rasakan ketika berlatih? Well I am not a religious person, sama
sekali bukan. Tapi entah kenapa karya Amil yang satu ini membuat gw merasa
dekat sekali dengan Tuhan gw, tanpa ada rasa takut sedikitpun. Gw akuin gw
cengeng, tapi gw gak bisa membendung lagi air mata gw ketika gw inget almarhum
bokap. Sebegitu dahsyatnya komposisi ini.
Dan betul saja, di lagu terakhir malam itu, gw berhasil menahan air mata gw, tapi lihatlah air mata penonton. Komposisi Amil sangat istimewa, berdurasi 7 menitan tapi tidak berasa panjang. Asmaul Husna sendiri adalah 99 sifat Allah dan dengan brilian Amil menyusunnya dalam 99 bar. Kredit point gw berikan pada alm. Arif Dharma yang mengambil solo pada komposisi Asmaul Husna, tanpa harus “kearab-araban” dan “kengaji-ngajian” Arif dengan sukses memberikan nafas dan sentuhan Melayu, yang membuat part solo tsb menjadi lebih dekat ke hati kita orang Indonesia. Dan sadar gak sadar, arif telam memberikan fondasi kuat inti dari konser ini ; Iman adalah bagian dari budaya.
Perlu gw berikan catatan lebih untuk sahabat gw ini. Arif adalah seorang muslim yang sangat toleran, ia tak pernah mempermasalahkan akan menyanyikan lagu apapun di panggung. Seorang profesional sejati. Namun alangkah bahagianya kita semua sebagai sahabat Arief mengetahui bahwa Asmaul Husna adalah lagu terakhir Arif yang ia nyanyikan di panggung secara profesional untuk Difertimento. Al-Fatihah untuk Arief.
![]() |
| Arif Dharma di konser terakhirnya |
Terkadang Iman adalah bagian besar dari diri kita yang sering
kita lupakan, namun musik mampu membawa Iman kita kembali dan siapa saja yang
mengatakan musik itu haram, I feel sorry for him/her, karena kepercayaan dan
kesyahduan adalah saudara dekat dari empati dan simpati. And that is the whole
point of religion.
Sampai Bertemu di konser difertimento selanjutnya
difertimento vocal ensemble are :
Conductor : Budi Susanto Yohanes
Soprano :
Astrid Susanto, Novianyanti Nathalia Putri,Sarma Dahita Silalahi, Windy Mulia Liem, Gabriella Judithia, Lidya Wati Sidauruk, Oldina Sitompul,Prisca Adhisri,Rebeca Sihombing
Alto :
Maritha Dewi Asih Perwitasari,Meyri Irene, Rosa Alindoe, Angela Levira, Joyce Sopacua, Nadya Aelisa Wiranata
Tenor :
Arif Dharma,Florian Hutagalung, Herlambang Pandudewananta,Yohanes Raka,Adji Kasyono, Daniel Reza Adriansyah, Fransisco Adrian
Bass :
Amillio Fahlevi,Andre Rudolfo Yoshua,Dinullah Bayu Ibrahim, Ryan Fachrizal,Brian Agung Hari Santosa, Mohammad Charles,Vincentius Oktavio Dwiputra Satriadinata,Wisnu Ardiantino













Comments
Post a Comment